BBGTK Mendampingi Day 3 di SMPN 1 Wonosari : Open Class Rini Harjanti Hadirkan Pembelajaran Lembaga Keuangan yang Kontekstual dan Menarik

Rangkaian program "BBGTK Mendampingi" yang difasilitasi oleh Balai Besar Guru Penggerak dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) DIY untuk MGMP IPS Kabupaten Gunungkidul memasuki momen puncak dengan diselenggarakannya Open Class hari ketiga. Kegiatan yang berlangsung di SMP Negeri 1 Wonosari ini menampilkan guru model Rini Harjanti, S.Pd. yang dengan apik mendemonstrasikan pembelajaran materi Lembaga Keuangan Bukan Bank untuk kelas IX.


Sebagai langkah awal, fasilitator BBGTK DIY, Arfianti Lababa, M.Pd., membuka sesi dengan penjelasan tentang fokus observasi. Rini Harjanti kemudian mempresentasikan Rencana Pembelajaran (RPP) yang telah disusunnya, sekaligus membagikan instrumen observasi kepada seluruh guru peserta. Instrumen ini berfungsi sebagai panduan bagi para guru untuk menganalisis secara mendalam penerapan strategi, keaktifan siswa, dan efektivitas asesmen yang dilakukan.

Mengawali Pembelajaran dengan Realitas Keuangan Siswa

Rini Harjanti membuka pembelajaran dengan cara yang cerdas dan kontekstual. Alih-alih langsung memberikan definisi formal, ia memulai dengan tanya jawab interaktif mengenai pengalaman siswa dalam menabung. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Di mana biasanya kalian menabung?" dan "Apakah ada yang pernah meminjam uang untuk keperluan tertentu?" berhasil memancing respons aktif dan antusias dari siswa.


Dari jawaban siswa yang beragam—mulai dari menabung di celengan, melalui simpanan kelas, hingga membantu orang tua mengakses kredit usaha—Rini secara natural mengantarkan siswa pada konsep tentang keberadaan lembaga keuangan di luar bank yang dekat dengan keseharian mereka.

Simulasi dan Bermain Peran: Menghadirkan LKBB dalam Kelas

Puncak pembelajaran terjadi ketika Rini Harjanti membagi siswa ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan simulasi dan bermain peran (role play). Setiap kelompok diberi tugas untuk mempresentasikan salah satu Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), seperti:

  • Koperasi Simpan Pinjam: Memperagakan proses menjadi anggota, menyetor simpanan, dan mengajukan pinjaman.

  • Perusahaan Pegadaian: Mensimulasikan proses gadai emas untuk modal usaha.

  • Perusahaan Leasing: Memperagakan proses pengajuan kredit pembelian sepeda motor.

Melalui aktivitas ini, siswa tidak hanya menghafal fungsi LKBB, tetapi mengalami secara langsung proses dan manfaatnya. Mereka berlatih berkomunikasi, bernegosiasi, dan memahami prosedur yang berlaku. Suasana kelas menjadi hidup dan dinamis, penuh dengan diskusi dan kolaborasi.

Koneksi dengan Masa Depan dan Asesmen Autentik

Rini Harjanti dengan terampil mengaitkan materi dengan masa depan siswa. Dalam sesi refleksi, ia menantang siswa untuk berpikir kritis tentang peran LKBB dalam mendukung ekonomi kreatif dan kewirausahaan. Siswa diajak menganalisis LKBB mana yang paling tepat dimanfaatkan untuk merintis usaha kecil-kecilan di bidang yang mereka minati.

Asesmen pembelajaran berlangsung secara autentik dan terus menerus. Rini dan guru observer dapat langsung menilai pemahaman dan keterampilan siswa melalui keaktifan dalam diskusi awal, kedalaman analisis dalam presentasi kelompok, dan kemampuan menjawab pertanyaan selama sesi tanya jawab.

Refleksi Kolaboratif: Mengukuhkan Praktik Baik

Usai Open Class, Arfianti Lababa memandu sesi refleksi yang penuh dengan apresiasi dan diskusi konstruktif. Para guru peserta memberikan pujian terhadap kemampuan Rini Harjanti dalam menciptakan pembelajaran yang student-centered, kontekstual, dan menyenangkan.

"Sangat inspiratif melihat siswa begitu antusias mempelajari materi yang sering dianggap teoritis. Metode simulasi dan role play terbukti efektif membuat siswa memahami kompleksitas LKBB dengan cara yang sederhana dan mudah diingat," ujar salah satu guru observer.

Lebih baru Lebih lama