Program pendampingan “BBGTK Mendampingi” yang digagas oleh Balai Besar Guru Penggerak dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) DIY untuk MGMP IPS Kabupaten Gunungkidul memasuki babak yang paling dinantikan: Open Class. Kegiatan yang merupakan pertemuan ketiga ini berhasil mendemonstrasikan secara nyata bagaimana teori deep learning dan asesmen autentik diimplementasikan dalam ruang kelas, dengan materi "Mobilitas Sosial" yang diajar oleh guru model, Akhmad Shatiri, M.Pd. dari SMP Negeri 1 Karangmojo.
Sebelum memasuki sesi pengamatan pembelajaran, terlebih dahulu dilaksanakan briefing yang dipandu oleh fasilitator, Nurdhani Dharianta, S.Si, M.BA. Pada sesi ini, Ahmad Satiri menyampaikan Rencana Pembelajaran yang telah disusunnya secara detail. Ia memaparkan tujuan pembelajaran, alur kegiatan, dan teknik asesmen yang akan digunakan. Tidak kalah penting, ia juga membagikan instrumen observasi kepada seluruh guru peserta yang hadir. Instrumen ini berfungsi sebagai panduan bagi rekan-rekan guru untuk melakukan analisis yang terfokus terhadap proses pembelajaran, mulai dari strategi guru, respons siswa, hingga efektivitas asesmen yang diterapkan.
Brainstorming yang Membuka Cakrawala: Mengaitkan Materi dengan Cita-Cita
Saat sesi pembelajaran dimulai, Ahmad Satiri tidak langsung menyodorkan definisi buku teks. Ia membuka kelas dengan sebuah sesi brainstorming yang powerful. Siswa diajak untuk memikirkan dan mendiskusikan profesi orang tua mereka masing-masing. Suasana pun menjadi hidup.
Kegiatan kemudian bergerak lebih dalam ketika siswa diminta untuk merefleksikan harapan mereka dalam melakukan mobilitas vertikal antar generasi. Pertanyaan semacam, "Berdasarkan profesi orang tuamu, ke mana kamu ingin bergerak di masa depan?" memicu siswa untuk tidak hanya mengenali kondisi sosial keluarganya tetapi juga mulai merancang masa depannya. Dalam sesi ini, materi sosiologi tentang mobilitas sosial berhasil diubah dari sekadar konsep abstrak menjadi sebuah peta perjalanan hidup yang personal dan relevan bagi setiap siswa.
Diskusi dengan Narasumber Autentik: Kisah Keluarga dari Teman Sebaya
Puncak dari keautentikan pembelajaran terjadi pada saat sesi diskusi dengan narasumber. Akhmad Shatiri telah memilih beberapa siswa sebagai narasumber terpilih untuk menceritakan kisah keluarganya di depan kelas.
Dengan penuh percaya diri, satu per satu siswa tersebut bercerita tentang perjalanan orang tua mereka—ada yang dari buruh tani menjadi pedagang, dari karyawan biasa mendirikan usaha mandiri, atau perjuangan orang tua dalam menempuh pendidikan hingga bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Cerita-cerita ini adalah studi kasus nyata dan hidup tentang konsep mobilitas sosial, baik vertikal maupun horizontal, yang langsung dialami oleh lingkungan terdekat siswa.
Suasana kelas hening dan penuh perhatian. Rekan-rekan mereka mendengarkan dengan saksama, karena yang diceritakan bukanlah contoh dari buku, tetapi kisah nyata dari keluarga mereka sendiri. Metode ini tidak hanya membuat pemahaman siswa tentang mobilitas sosial menjadi sangat mendalam, tetapi juga membangun empati, menghargai perjuangan orang tua, dan menguatkan karakter.
Refleksi Pasca-Observasi: Pembelajaran yang Menginspirasi
Usai Open Class, Nurdhani Dharianta memandu sesi refleksi yang kaya akan umpan balik. Guru-guru observer menyampaikan kekaguman mereka terhadap alur pembelajaran yang dirancang Akhmad Shatiri.
“Pembelajaran tadi adalah contoh sempurna bagaimana menciptakan meaningful learning. Siswa tidak hanya paham teori, tetapi mereka merasakan langsung relevansi IPS dalam kehidupan mereka. Asesmen berjalan secara alami melalui observasi terhadap partisipasi, argumen dalam diskusi, dan kemampuan bercerita mereka,” komentar Budi Setiyarso, salah satu peserta.


